Vimax Kisah Hot Cerita Ngentot Terbaru Cerita Dewasa Cerita Sex Kisah Bokep Kisah Sex Cerita bokep Kisah Hot Cerita Dewasa Cerita Dewasa Kisah Seks Kisah Mesum Kisah Bokep  
cerita sex Kisah Sex Kisah Mesum Situs Poker
cerita sex Cerita Dewasa cerita hot Kisah Mesum

Kisah Bokep Istri Seorang Kawan

Vimax Cerita Seks Cerita Ngentot

Kisah Bokep Istri Seorang Kawan – Sebut saja namanya “Devina” (nama samaran). Dia adalah seorang perempuan bersuku campuran. Bapaknya berasal dari kota Menado dan Ibunya dari kota Makassar. Bapaknya adalah seorang polisi berpangkat Serma, sedang ibunya adalah pengusaha kayu.

Singkat cerita, ketika hari pertama aqu ketemu dgn teman kuliahku itu, rasanya kita langsung akrab sebab memang sewaktu kita sama-sama duduk di bangku kuliah, kita sangat kompak dan sering tidur bersama di rumah kostku di kota Bone. Bahkan seringkali dia mentraktirku.

Kisah Bokep, Kisah Bokep Terbaru, Kisah Bokep 2017, Kisah Bokep Terbaru, Kisah Bokep Terhangat, Kisah Bokep Nyata, Kisah Bokep Tante, Kisah Bokep Selingkuh
Kisah Bokep Terbaru

Jangan Lewatkan Halamandewasa.com Ya gaisss

“Nis, aqu senang sekali bertemu dgnmu dan memang sudah lama kucari-cari, maukah kamu mengingap barang sehari atau dua hari di rumahku?” katanya padaqu sambil merangkulku dgn erat sekali. Nama teman kuliahku itu adalah “Denis”.

“Kita lihat saja nanti. Yg jelas aqu sangat bersukur kita bisa ketemu di tempat ini. Mungkin inilah namanya nasib baik, sebab aqu sama sekali tak menduga kalau kamu tinggal di kota Makassar ini” jawabku sambil membalas rangkulannya. Kita berangkulan cukup lama di sekitar pasar sentral Makassar, tepatnya di tempat jualan cakar.

“Ayo kita ke rumah dulu Nis, nanti kita ngobrol panjang lebar di sana, sekaligus kuperkenalkan istriku” ajaknya sambil menuntunku naik ke mobil Feroza miliknya. Setelah kita tiba di halaman rumahnya, Denis terlebih dahulu turun dan segera membuka pintu mobilnya di sebelah kiri lalu mempersilakan aqu turun. Aqu sangat kagum melihat rumah tempat tinggalnya yg berlantai dua. Lantai bawah digunakan sebagai gudang dan kantor perusahaannya, sementara lantai atas digunakan sebagai tempat tinggal bersama istri. Aqu hanya ikut di belakangnya.

“Inilah hasil usaha kita Nis selama beberapa tahun di Makassar” katanya sambil menunjukkan tumpukan beras dan ruangan kantornya.

“Wah cukup hebat kamu Sir. Usahamu cukup lemayan. Kamu sangat berhasil dibanding aqu yg belum jelas sumber kehidupanku” kataqu padanya.

“Dar, Dar, inilah teman kuliahku dulu yg pernah kuceritakan tempo hari. Kenalkan istri cantik saya” teriak Denis memanggil istrinya dan langsung kita dikenalkan.

“Devina”, kata istrinya menyebut namanya ketika kusalami tangannya sambil ia tersenyum ramah dan manis seolah menunjukkan rasa kegembiraan.

“Denis”, kataqu pula sambil membalas senyumannya.

Rupanya Devina ini adalah seorang istri yg baik hati, ramah dan selalu memelihara kecantikannya. Usianya kutaksir baru sekitar 25 tahun dgn badan sedikit langsing dan tinggi badan sekitar 145 cm serta berambut agak panjang. Tangannya terasa hangat dan halus sekali. Setelah selesai menyambutku, Devina lalu mempersilakanku duduk dan ia buru-buru masuk ke dalem seolah ada urusan penting di dalem. Belum lama kita bincang-bincang seputar perjalanan usaha Denis dan pertemuannya dgn Devina di Kota Makassar ini, dua cangkir kopi susu beserta kue-kue bagus dihidangkan oleh Devina di atas meja yg ada di depan kita.

“Silakah Kak, dinikmati hidangan ala kadarnya” ajakan Devina menyentuh langsung ke lubuk hatiku. Selain sebab senyuman manisnya, kelembutan suaranya, juga sebab penampilan, kecantikan dan sengatan bau farfumnya yg harum itu. Dalem hati kecilku mengatakan, alangkah senang dan bahagianya Denis bisa mendapatkan istri seperti Devina ini. Seandainya aqu juga mempunyai istri seperti dia, pasti aqu tak bisa ke mana-mana

“Eh, kok malah melamun. Ada masalah apa Nis sampai termenung begitu? Apa yg mengganggu pikiranmu?” kata Denis sambil memegang pundakku, sehingga aqu sangat kaget dan tersentak.

“Ti.. Tak ada masalah apa-apa kok. Hanya aqu merenungkan sejenak tentang pertemuan kita hari ini. Kenapa bisa terjadi yah,” alasanku.

Devina hanya terdiam mendengar kita bincang-bincang dgn suaminya, tetapi sesekali ia memandangiku dan menampakkan wajah cerianya.

“Sekarang giliranmu Nis cerita tentang perjalanan hidupmu bersama istri setelah sejak tadi hanya aqu yg bicara. Silahkan saja cerita panjang lebar mumpun hari ini aqu tak ada kesibukan di luar. Lagi pula anggaplah hari ini adalah hari keistimewaan kita yg perlu dirayakan bersama. Bukankah begitu Dar..?” kata Denis seolah cari dukungan dari istrinya dan waktunya siap digunakan khusus untukku.

“Ok, kalau gitu aqu akan utarakan sedikit tentang kehidupan rumah tanggaqu, yg sangat bertolak belakang dgn kehidupan rumah tangga kalian” ucapanku sambil memperbaiki dudukku di atas kursi empuk itu.

“Maaf jika terpaksa kuungkapkan secara terus terang. Sebenarnya kedatanganku di kota Makassar ini justru sebab dipicu oleh problem rumah tanggaqu. Aqu selalu cekcok dan bertengkar dgn istriku gara-gara aqu kesulitan mendapatkan lapangan kerja yg layak dan mempu menghidupi keluargaqu. Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan rumah guna mencari pekerjaan di kota ini. Eh.. Belum aqu temukan pekerjaan, tiba-tiba kita ketemu tadi setelah dua hari aqu ke sana ke mari. Mungkin pertemuan kita ini ada hikmahnya. Semoga saja pertemuan kita ini merupakan jalan keluar untuk mengatasi kesulitan rumahtanggaqu” Kisahku secara jujur pada Denis dan istrinya.

Mendengar kisah sedihku itu, Denis dan istrinya tak mampu berkomentar dan nampak ikut sedih, bahkan kita semua terdiam sejenak. Lalu secara serentak mulut Denis dan istrinya terbuka dan seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi tiba-tiba mereka saling menatap dan menutup kembali mulutnya seolah mereka saling mengharap untuk memulai, namun malah mereka ketawa terbahak, yg membuatku heran dan memaksa juga ketawa.

“Begini Nis, mungkin pertemuan kita ini benar ada hikmahnya, sebab kebetulan sekali kita butuh teman seperti kamu di rumah ini. Kita khan belum dikaruniai seorang anak, sehingga kita selalu kesepian. Apalagi jika aqu ke luar kota misalnya ke Bone, maka istriku terpaksa sendirian di rumah meskipun sekali-kali ia memanggil kemanakannya untuk menemani selama aqu tak ada, tetapi aqu tetap menghawatirkannya. Untuk itu, jika tak memberatkan, aqu inginkan kamu tinggal bersamaqu. Anggaplah kamu sudah dapatkan lapangan kerja baru sebagai sumber mata pencaharianmu. Segala keperluan sehari-harimu, aqu coba menanggung sesuai kemampuanku” kata Denis bersungguh-sungguh yg sesekali diiyakan oleh istrinya.

“Maaf kawan, aqu tak mau merepotkan dan membebanimu. Biarlah aqu cari kerja di tempat lain saja dan..” Belum aqu selesai bicara, tiba-tiba Denis memotong dan berkata..

“Kalau kamu tolak tawaranku ini berarti kamu tak menganggapku lagi sebagai sahabat. Kita ikhlas dan bermaksud baik padamu Nis” katanya.

“Namun,” Belum kuutarakan maksudku, tiba-tiba Devina juga ikut bicara..

“Benar Kak, kita sangat membutuhkan teman di rumah ini. Sudah lama hal ini kita pikirkan tetapi mungkin baru kali ini dipertemukan dgn orang yg tepat dan sesuai hati nurani. Apalagi Kak Denis ini memang sahabat lama Kak Denis, sehingga kita tak perlu ragukan lagi. Bahkan kita sangat senan jika Kak sekalian menjemput istrinya untuk tinggal bersama kita di rumah ini” ucapan Devina memberi dorongan kuat padaqu.

“Kalau begitu, apa boleh buat. Terpaksa kuterima dgn senang hati, sekaligus kuucapkan terima kasih yg tak terhingga atas budi baiknya. Tetapi saygnya, aqu tak memiliki keterampilan apa-apa untuk membantu kalian” kataqu dgn pasrah.

Tiba-tiba Denis dan Devina bersamaan berdiri dan langsung saling berpelukan, bahkan saling mengecup bibir sebagai tanda kegembiraannya. Lalu Denis melanjutkan rangkulannya padaqu dan juga mengecup pipiku, sehingga aqu sedikit malu dibuatnya.

“Terima kasih Nis atas kesediaanmu menerima tawaranku semoga kamu berbahagia dan tak kesulitan apapun di rumah ini. Kita tak membutuhkan keterampilanmu, melainkan kehadiranmu menemani kita di rumah ini. Kita hanya butuh teman bermain dan tukar pikiran, sebab tenaga kerjaqu sudah cukup untuk membantu mengelola usahaqu di luar. Kita sewaktu-waktu membutuhkan nasehatmu dan istriku pasti merasa terhibur dgn kehadiranmu menemani jika aqu keluar rumah” katanya dgn sangat bergembira dan senang mendengar persetujuanku. Kisah Bokep 2017

Kurang lebih satu bulan lamanya kita seolah hanya diperlaqukan sebagai raja di rumah itu. Makanku diurus oleh Devina, tempat tidurku terkadang juga dibersihkan olehnya, bahkan ia meminta untuk mencuci pakaianku yg kotor tetapi aqu keberatan. Selama waktu itu pula, aqu sudah dilengkapi dgn pakaian, bahkan kamar tidurku dibelikan TV 20 inch lengkap dgn VCD-nya. Aqu sangat malu dan merasa berutang budi pada mereka, sebab selain pakaian, aqupun diberi uang tunai yg jumlahnya cukup besar bagiku, bahkan belakangan kuketahui jika ia juga seringkali kirim pakaian dan uang ke istri dan anak-anakku di Bone lewat mobil.

Halamandewasa.com

Kita bertiga sudah cukup akrab dan hidup dalem satu rumah seperti saudara kandung bersenda gurau, bercengkerama dan bergaul tanpa batas seolah tak ada perbedaan status seperti majikan dan karyawannya. Kebebasan pergaulanku dgn Devina memuncak ketika Denis berangkat ke Sulawesi Tenggara selama beberapa hari untuk membawa beras untuk di jual di sana sebab ada permintaan dari langgarannya.

Pada malam pertama keberangkatan Denis, Devina nampak gembira sekali seolah tak ada kekhawatiran apa-apa. Bahkan sempat mengatakan kepada suaminya itu kalau ia tak taqut lagi ditinggalkan meskipun berbulan-bulan lamanya sebab sudah ada yg menjaganya, namun ucapannya itu dianggapnya sebagai bentuk humor terhadap suaminya. Denis pun nampak tak ada kekhawatiran meninggalkan istrinya dgn alasan yg sama.

Malam itu kita (aqu dan Devina) menonton bersama di ruang tamu hingga larut malam, sebab kita sambil tukar pengalaman, termasuk soal sebelum nikah dan latar belakang perkawinan kita masing-masing. Sikap dan tingkah laqu Devina sedikit berbeda dgn malam-malam sebelumnya. Malam itu, Devina membuat kopi susu dan menyodorkanku bersama pisang susu, lalu kita nikmati bersama-sama sambil nonton. Ia makan sambil berbaring di sampingku seolah dianggap biasa saja. Sesekali ia membalikkan badannya kepadaqu sambil bercerita, namun aqu pura-pura bersikap biasa, meskipun ada ganjalan aneh di benakku.

“Nis, kamu tak keberatan khan menemaniku nonton malam ini? Besok khan tak ada yg mengganggu kita sehingga kita bisa tidur siang sepuasnya?” tanya Devina tiba-tiba seolah ia tak mengantuk sedikitpun.
“Tak kok Dar. Aqu justru senang dan bahagia bisa nonton bersama majikanku” kataqu sedikit menyanjungnya. Devina lalu mencubitku dan..
“Wii de.. De, kok aqu dibilangin majikan. Sebel aqu mendengarnya. Ah, jangan ulang kata itu lagi deh, aqu tak sudi dipanggil majikan” katanya.
“Hi.. Hi.. Hi, tak salah khan. Maaf jika tak senang, aqu hanya main-main. Lalu aqu harus panggil apa? Adik, Non, Nyonya atau apa?”
“Terserah dech, yg penting bukan majikan. Tetapi aqu lebih seneng jika kamu memanggil aqu adik” katanya santai.
“Oke kalau begitu maunya. Aqu akan panggil adik saja” kataqu lagi.

Malam semakin larut. Tak satupun terdengar suara kecuali suara kita berdua dgn suara TV. Devina tiba-tiba bangkit dari pembaringannya.

“Nis, apa kamu sering nonton kaset VCD bersama istrimu?” tanya Devina dgn sedikit rendah suaranya seolah tak mau didengar orang lain.
“Eng.. Pernah, tetapi sama-sama dgn orang lain juga sebab kita nonton di rumahnya” jawabku menyembunyikan sikap keherananku atas pertanyaannya yg tiba-tiba dan sedikit aneh itu.
“Kamu ingat judulnya? Atau jalan ceritanya?” tanyanya lagi.
“Aqu lupa judulnya, tetapi pemainnya adalah Rhoma Irama dan ceritanya adalah masalah percintaan” jawabku dgn pura-pura bersikap biasa.
“Masih mau ngga kamu temani aqu nonton film dari VCD? Kebetulan aqu punya kaset VCD yg banyak. Judulnya macam-macam. Terserah yg mana Denis suka” tawarannya, tetapi aqu sempat berfikir kalau Devina akan memutar film yg aneh-aneh, film orang dewasa dan biasanya khusus ditonton oleh suami istri untuk membangkitkan gairahnya.

Setelah kupikir segala resiko, kepercayaan dan dosa, aqu lalu bikin alasan.

“Sebenarnya aqu senang sekali, tetapi aqu taqut.. Eh.. Maaf aqu sangat ngantuk. Jika tak keberatan, lain kali saja, pasti kutemani” kataqu sedikit bimbang dan taqut alasanku salah. Tetapi akhirnya ia terima meskipun rupanya sedikit kecewa di wajahnya dan kurang semangat.

“Baiklah jika memang kamu sudah ngantuk. Aqu tak mau sama sekali memaksamu, lagi pula aqu sudah cukup senang dan bahagia kamu bersedia menemaniku nonton sampai selarut ini. Ayo kita masuk tidur” katanya sambil mematikan TV-nya, namun sebelum aqu menutup pintu kamarku, aqu melihat sejenak ia sempat memperhatikanku, tetapi aqu pura-pura tak menghiraukannya.

Di atas tempat tidurku, aqu gelisah dan bingung mengambil keputusan tentang alasanku jika besok atau lusa ia kembali mengajakku nonton film tersebut. Antara mau, malu dan rasa taqut selalu menghantukiku. Mungkin dia juga mengalami hal yg sama, sebab dari dalem kamarku selalu terdengar ada pintu kamar terbuka dan tertutup serta air di kamar mandi selalu kedengaran tertumpah.

Setelah kita makan malam bersama keesokan harinya, kita kembali nonton TV sama-sama di ruang tamu, tetapi penampilan Devina kali ini agak lain dari biasanya. Ia berpakaian serba tipis dan tercium bau farfumnya yg harum menyengat hidup sepanjang ruang tamu itu. Jantungku sempat berdebar dan hatiku gelisah mencari alasan untuk menolak ajakannya itu, meskipun gejolak hati kecilku untuk mengikuti kemauannya lebih besar dari penolakanku. Belum aqu sempat menemukan alasan tepat, maka

“Nis, masih ingat janjimu tadi malam? Atau kamu sudah ngantuk lagi?” pertanyaan Devina tiba-tiba mengagetkanku.
“O, oohh yah, aqu ingat. Nonton VCD khan? Tetapi jangan yg seram-seram donk filmnya, aqu tak suka. Nanti aqu mimpi buruk dan membuatku sakit, khan repot jadinya” jawabku mengingatkan untuk tak memutar film porn.
“Kita liat aja permainannya. Kamu pasti senang menyaksikannya, sebab aqu yakin kamu belum pernah menontonnya, lagi pula ini film baru” kata Devina sambil meraih kotak yg berisi setumpuk kaset VCD lalu menarik sekeping kaset yg paling di atas seolah ia telah mempersiapkannya, lalu memasukkan ke CD, lalu mundur dua langkah dan duduk di sampingku menunggu apa gerangan yg akan muncul di layar TV tersebut.

Dag, dig, dug, getaran jantungku sangat keras menunggu gambar yg akan tampil di layar TV. Mula-mula aqu yakin kalau filmnya adalah film yg dapat dipertontonkan secara umum sebab gambar pertama yg muncul adalah dua orang perempuan yg sedang berloma naik speed board atau sampan dan saling membalap di atas air sungat. Namun dua menit kemudian, muncul pula dua orang pria memburuhnya dgn naik kendaraan yg sama, akhirnya keempatnya bertemu di tepi sungai dan bergandgn tangan lalu masuk ke salah satu villa untuk bersantai bersama.

Tak lama kemudian mereka berpasang-pasangan dan saling membuka pakaiannya, lalu saling merangkul, mencium dan seterusnya sebagaimana layaknya suami istri. Niat penolakanku tadi tiba-tiba terlupakan dan terganti dgn niat kemauanku. Kita tak mampu mengeluarkan kata-kata, terutama ketika kita menyaksikan dua pasang muda mudi bertelanjang bulat dan saling menjilati kemaluannya, bahkan saling mengadu alat yg paling vitalnya. Kita hanya bisa saling memandang dan tersenyum.

“Gimana Nis,? Asyik khan? Atau ganti yg lain saja yg lucu-lucu?” pancing Devina, tetapi aqu tak menjawabnya, malah aqu melenguh panjang.
“Apa kamu sering dan senang nonton film beginian bersama suamimu?” giliran aqu bertanya, tetapi Devina hanya menatapku tajam lalu mengangguk.
“Hmmhh” kudengar suara nafas panjang Devina keluar dari mulutnya.
“Apa kamu pernah praktekkan seperti di film itu Nis?” tanya Devina ketika salah seorang perempuannya sedang menungging lalu laki-lakinya menusukkan kontolnya dari belakang lalu mengocoknya dgn kuat.
“Tak, belum pernah” jawabku singkat sambil kembali bernafas panjang.
“Maukah kamu mencobanya nanti?” tanya Devina dgn suara rendah.
“Dgn siapa, kita khan pisah dgn istri untuk sementara” kataqu.
“Jika kamu bertemu istrimu nanti atau perempuan lain misalnya” kata Devina.
“Yachh.. Kita liat saja nanti. Boleh juga kita coba nanti hahaha” kataqu.
“Nis, apa malam ini kamu tak ingin mencobanya?” Tanya Devina sambil sedikit merapatkan badannya padaqu. Saking rapatnya sehingga badannya terasa hangatnya dan bau harumnya.
“Dgn siapa? Apa dgn perempuan di TV itu?” tanyaqu memancing.
“Gimana jika dgn aqu? Mumpung hanya kita berdua dan nggak bakal ada orang lain yg tahu. Mau khan?” Tanya Devina lebih jelas lagi mengarah sambil menyentuh tanganku, bahkan menyandarkan badannya ke badanku.

Sungguh aqu kaget dan jantungku seolah copot mendengar rincian pertanyaannya itu, apalagi ia menyentuhku. Aqu tak mampu lagi berpikir apa-apa, melainkan menerima apa adanya malam itu. Aqu tak akan mungkin mampu menolak dan mengecewakannya, apalagi aqu sangat menginginkannya, sebab telah beberapa bulan aqu tak melaqukan sex dgn istriku. Aqu mencoba merapatkan badanku pula, lalu mengelus tangannya dan merangkul punggungnya, sehingga terasa hangat sekali.

“Apa kamu serius? Apa ini mimpi atau kenyataan?” Tanyaqu amat gembira.
“Akan kubuktikan keseriusanku sekarang. Rasakan ini sayg” tiba-tiba Devina melompat lalu mengangkangi kedua pahaqu dan duduk di atasnya sambil memelukku, serta mencium pipi dan bibirku bertubi-tubi.

Tentu aqu tak mampu menyia-nyiakan kesempatan ini. Aqu segera menyambutnya dan membalasnya dgn sikap dan tindakan yg sama. Rupanya Devina sudah ingin segera membuktikan dgn melepas sarung yg dipakainya, tetapi aqu belum mau membuka celana panjang yg kepakai malam itu.

Pergumulan kita dalem posisi duduk cukup lama, meskipun berkali-kali Devina memintaqu untuk segera melepaskan celanaqu, bahkan ia sendiri beberapa kali berusaha membuka kancingnya, tetapi selalu saja kuminta agar ia bersabar dan pelan-pelan sebab waktunya sangat panjang.

“Ayo Kak Nis, cepat sayg. Aqu sudah tak tahan ingin membuktikannya” rayu Devina sambil melepas rangkulannya lalu ia tidur telentang di atas karpet abu-abu sambil menarik tanganku untuk menindihnya. Aqu tak tega membiarkan ia penasaran terus, sehingga aqu segera menindihnya.
“Buka celana sayg. Cepat.. Aqu sudah capek nih, ayo dong,” pintanya.

Aqupun segera menuruti permintaannya dan melepas celana panjangku. Setelah itu, Devina menjepitkan ujung jari kakinya ke bagian atas celana dalemku dan berusaha mendorongnya ke bawah, tetapi ia tak berhasil sebab aqu sengaja mengangkat punggungku tinggi-tinggi untuk menghindarinya.

Ketika aqu mencoba menyingkap baju daster yg dipakaianya ke atas lalu ia sendiri melepaskannya, aqu kaget sebab tak kusangka kalau ia sama sekali tak pakai celana. Dalem hatiku bahwa mungkin ia memang sengaja siap-siap akan bersebadan dgnku malam itu. Di bawah sinar lampu 10 W yg dibarengi dgn cahaya TV yg semakin seru bermain bugil, aqu sangat jelas menyaksikan sebuah lubang yg dikelilingi daging montok nan putih mulus yg tak ditumbuhi rambut selembar pun.

Tampak menonjol sebuah benda mungil seperti biji kacang di tengah-tengahnya. Rasanya cukup menantang dan mempertinggi birahiku, tetapi aqu tetap berusaha mengendalikannya agar aqu bisa lebih lama bermain-main dgnnya. Ia sekarang sudah bugil 100%, sehingga terlihat bentuk badannya yg langsing, putih mulus dan indah sekali dipandang.

“Ayo donk, tunggu apa lagi sayg. Jangan biarkan aqu tersiksa seperti ini” pinta Devina tak pernah berhenti untuk segera menikmati puncaknya.
“Tenang sayg. Aqu pasti akan memuaskanmu malam ini, tetapi saya masih mau bermain-main lebih lama biar kita lebih banyak menikmatinya”kataqu

Secara perlahan tetapi pasti, ujung lidahku mulai menyentuh tepi lubang kenikmatannya sehingga membuat pinggulnya bergerak-gerak dan berdesis.

“Nikmat khan kalau begini?” tanyaqu berbisik sambil menggerak-gerakkan lidahku ke kiri dan ke kanan lalu menekannya lebih dalem lagi sehingga Devina setengah berteriak dan mengangkat tinggi-tinggi pantatnya seolah ia menyambut dan ingin memperdalem masuknya ujung lidahku.

Ia hanya mengangguk dan memperdengarkan suara desis dari mulutnya.

“Auhh.. Aakkhh.. Iihh.. Uhh.. Oohh.. Sstt” suara itu tak mampu dikurangi ketika aqu gocok-gocokkan secara lebih dalem dan keras serta cepat keluar masuk ke lubang kemaluannya.
“Teruuss sayg, nikkmat ssekalii.. Aakhh.. Uuhh. Aqu belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya” katanya dgn suara yg agak keras sambil menarik-narik kepalaqu agar lebih rapat lagi.
“Bagaimana? Sudah siap menyambut lidahku yg panjang lagi keras?” tanyaqu sambil melepaskan seluruh pakaianku yg masih tersisa dan kitapun sama-sama bugil.

Persentuhan badanku tak sehelai benangpun yg melapisinya. Terasa hangatnya hawa yg keluar dari badan kita.

“Iiyah,. Dari tadi aqu menunggu. Ayo,. Cepat” kata Devina tergesa-gesa sambil membuka lebar-lebar kedua pahanya, bahkan membuka lebar-lebar lubang kemaluannya dgn menarik kiri kanan kedua bibirnya untuk memudahkan jalannya kemaluanku masuk lebih dalem lagi.

Aqu pun tak mau menunda-nunda lagi sebab memang aqu sudah puas bermain lidah di mulut atas dan mulut bawahnya, apalagi keduanya sangat basah. Aqu lalu mengangkat kedua kakinya hingga bersandar ke bahuku lalu berusaha menusukkan ujung kemaluanku ke lubang kemaluan yg sejak tadi menunggu itu. Ternyata tak mampu kutembus sekaligus sesuai keinginanku. Ujung kulit kemaluanku tertahan, padahal Devina sudah bukan perawan lagi.

“Ssaakiit ssediikit.., ppeelan-pelan sedikit” kata Devina ketika ujung kemaluanku sedikit kutekan agak keras. Aqu gerakkan ke kiri dan ke kanan tetapi juga belum berhasil amblas.

Aqu turunkan kedua kakinya lalu meraih sebuah bantal kursi yg di belakanku lalu kuganjalkan di bawah pinggulnya dan membuka lebar kedua pahanya lalu kudorong kemaluanku agak keras sehingga sudah mulai masuk setengahnya. Devinapun merintih keras tetapi tak berkata apa-apa, sehingga aqu tak peduli, malah semakin kutekan dan kudorong masuk hingga amblas seluruhnya. Setelah seluruh gagang kemaluanku terbenam semua, aqu sejenak berhenti bergerak sebab capek dan melemaskan badanku di atas badan Devina yg juga diam sambil bernafas panjang seolah baru kali ini menikmati betul persebadanan.

Devina kembali menggerak-gerakkan pinggulnya dan aqupun menyambutnya. Bahkan aqu tarik maju mundur sedikit demi sedikit hingga jalannya agak cepat lalu cepat sekali. Pinggul kita bergerak, bergoyg dan berputar seirama sehingga menimbulkan bunyi-bunyian ygberirama pula.

“Tahan sebentar” kataqu sambil mengangkat kepala Devina tanpa mencabut kemaluanku dari lubang kemaluan Devina sehingga kita dalem posisi duduk.

Kita saling merangkul dan menggerakkan pinggul, tetapi tak lama sebab terasa sulit. Lalu aqu berbaring dan telentang sambil menarik kepada Devina mengikutiku, sehingga Devina berada di atasku. Kusarankan agar ia menggoyg, mengocok dan memompa dgn keras lagi cepat. Ia pun cukup mengerti keinginanku sehingga kedua tangannya bertumpu di atas dadaqu lalu menghentakkan agak keras bolak balik pantatnya ke kemaluanku, sehingga terlihat kepalanya lemas dan seolah mau jatuh sebab baru kali itu ia melaqukannya dgn posisi seperti itu. Sebab itu, kumaklumi jika ia cepat capek dan segera menjatuhkan badannya menempel ke atas badanku, meskipun pinggulnya masih tetap bergerak naik turun.

“Kamu mungkin sangat capek. Gimana kalau ganti posisi?” kataqu sambil mengangkat badan Devina dan melapas rangkulannya.
“Posisi bagaimana lagi? Aqu sudah beberapa kali merasa nikmat sekali” tanyanya heran seolah tak tahu apa yg akan kulaqukan, namun tetap ia ikuti permintaanku sebab ia pun merasa sangat nikmat dan belum pernah mengalami permainan seperti itu sebelumnya.
“Terima saja permainanku. Aqu akan tunjukkan beberapa pengalamanku”
“Yah.. Yah.. Cepat laqukan apa saja” katanya singkat.

Aqu berdiri lalu mengangkat badannya dari belakang dan kutuntunnya hingga ia dalem posisi nungging. Setelah kubuka sedikit kedua pahanya dari belakan, aqu lalu menusukkan kembali ujung kemaluanku ke lubangnya lalu mengocok dgn keras dan cepat sehingga menimbulkan bunyi dgn irama yg indah seiring dgn gerakanku. Devina pun terengah-engah dan napasnya terputus-putus menerima kenikmatan itu. Posisi kita ini tak lama sebab Devina tak mampu menahan rasa capeknya berlutut sambil kupompa dari belakan. Sebabnya, aqu kembalikan ke posisi semula yaitu tidur telentang dgn paha terbuka lebar lalu kutindih dan kukocok dari depan, lalu kuangkat kedua kakinya bersandar ke bahuku.

Posisi inilah yg membuat permainan kita memuncak sebab tak lama setelah itu, Devina berteriak-teriak sambil merangkul keras pinggangku dan mencakar-cakar punggungku. Bahkan sesekali menarik keras wajahku menempel ke wajahnya dan menggigitnya dgn gigitan kecil. Bersamaan dgn itu pula, aqu merasakan ada cairan hangat mulai menjalar di gagang kemaluanku, terutama ketika terasa sekujur badan Devina gemetar.

Aqu tetap berusaha untuk menghindari pertemuan antara air maniqu dgn sel telur Devina, tetapi terlambat, sebab baru aqu mencoba mengangkat punggungku dan berniat menumpahkan di luar rahimnya, tetapi Devina malah mengikatkan tangannya lebih erat seolah melarangku menumpahkan di luar yg akhirnya cairan kental dan hangat itu terpaksa tumpah seluruhnya di dalem rahim Devina. Devina rupanya tak menyesal, malah sedikit ceria menerimanya, tetapi aqu diliputi rasa taqut kalau-kalau jadi janin nantinya, yg akan membuatku malu dan hubungan persahabatanku berantakan.

Setelah kita sama-sama mencapai puncak, puas dan menikmati persebadanan yg sesungguhnya, kita lalu tergeletak di atas karpet tanpa bantal. Layar TV sudah berwarna biru sebab pergumulan filmnya sejak tadi selesai. Aqu lihat jam dinding menunjukkan pukul 12.00 malam tanpa terasa kita bermain kurang lebih 3 jam. Kita sama-sama terdiam dan tak mampu berkata-kata apapun hingga tertidur lelap. Setelah terbangun jam 7.00 pagi di tempat itu, rasanya masih terasa capek bercampur segar.

“Nis, kamu sangat hebat. Aqu belum pernah mendapatkan kenikmatan dari suamiku selama ini seperti yg kamu berikan tadi malam” kata Devina ketika ia juga terbangun pagi itu sambil merangkulku.
“Benar nih, jangan-jangan hanya gombal untuk menyenangkanku” tanyaqu.
“Sumpah.. Terus terang suamiku lebih banyak memikirkan kesenangannya dan posisi mainnya hanya satu saja. Ia di atas dan aqu di bawah. Kadang ia loyo sebelum kita apa-apa. Kontolnya pendek sekali sehingga tak mampu memberikan kenikmatan padaqu seperti yg kita berikan. Andai saja kamu suamiku, pasti aqu bahagia sekali dan selalu mau bersebadan, kalau perlu setiap hari dan setiap malam” paparnya seolah menyesali hubungannya dgn suaminya dan membandingkan dgnku.
“Tak boleh sayg. Itu namanya sudah jodoh yg tak mampu kita tolak. Kitapun berjodoh bersebadan dgn cara selingkuh. Sudahlah. Yg penting kita sudah menikmatinya dan akan terus menikmatinya” kataqu sambil menenangkannya sekaligus mencium keningnya.
“Maukah kamu terus menerus memberiku kenikmatan seperti tadi malam itu ketika suamiku tak ada di rumah” tanyanya menuntut janjiku.
“Iyah, pasti selama aman dan aqu tinggal bersamamu. Masih banyak permainanku yg belum kutunjukkan” kataqu berjanji akan mengulanginya
“Gimana kalau istri dan anak-anakmu nanti datang?” tanyanya khawatir.
“Gampang diatur. Aqu kan pembantumu, sehingga aqu bisa selalu dekat dgnmu tanpa kecurigaan istriku. Apalagi istriku pasti tak tahan tinggal di kota sebab ia sudah terbiasa di kampung bersama keluarganya tetapi yg kutaqutkan jika kamu hamil tanpa diaqui suamimu” kataqu.
“Aqu tak bakal hamil, sebab aqu akan memakan pil KB sebelum bermain seperti yg kulaqukan tadi malam, sebab memang telah kurencanakan” kara Devina terus terang.

Setelah kita bincang-bincang sambil tiduran di atas karpet, kita lalu ke kamar mandi masing-masing membersihkan diri lalu kita ke halaman rumah membersihkan setelah sarapan pagi bersama. Sejak saat itu, kita hampir setiap malam melaqukannya, terutama ketika suami Devina tak ada di rumah, baik siang hari apalagi malam hari, bahkan beberapa kali kulaqukan di kamarku ketika suami Devina masih tertidur di kamarnya, sebab Devina sendiri yg mendatangi kamarku ketika sedang “haus”.

Entah sampai kapan hal ini akan berlangsung, tetapi yg jelas hingga saat ini kita masih selalu ingin melaqukannya dan belum ada tanda-tanda kecurigaan dari suaminya dan dari istriku.

Cerita Dewasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

..